But she doesn't know... Everytime she gets hurt, The demon starts to grow. And when things can't get any worse, She will be dead. Killed, By her demon.
Vent It Out: Venting through the veins. Singkat cerita. Aku pernah punya blog kemudian dihapus karena isinya nirfaedah. Agak menyesal sih setelah menghapusnya. Karena bagaimanapun, blog tersebut seperti wadah penampung pikiran yang setidaknya bisa mendorong aku untuk menulis. Ya meskipun menulisnya rutin setahun tiga kali pun tidak. Hehehe. "Kenapa harus pakai nama itu?" Awalnya makin ke sini aku makin sadar bahwa menuangkan ide atau pikiran ke dalam sebuah tulisan itu penting. Meskipun begitu, menulis tidaklah mudah (buat aku pribadi). Masih perlu banyak latihan lah. Kemampuan menulisku kurang apalagi aku bukan tipe orang yang sebelumnya biasa berbagi melalui tulisan, sekalipun itu diary . (Yah, bisanya nge- tweet gak jelas di Twitter, sih). Karena ketidakmudahanku untuk menulis itulah, aku namai blog ini Vent It Out: Venting through the veins. vent /vent/ noun 2 . the expression...
Pernah kan denger kata-kata kayak gitu? Biasanya kata-kata tersebut keluar ketika kamu ngerasa disakiti, didzolimi, pokoknya merasa jadi pihak yang dirugikan atas tindakan seseorang. Tapi kemudian temen kamu ngeluarin kata-kata ajaib tadi, dengan maksud baik sih. Bisa dibilang temen kamu melihat sisi dimana kamu beresiko menjadi pihak yang merugi sendirian jika terlalu memikirkan seseorang yang telah merugikan atau menyakiti kamu, karena belum tentu seseorang tersebut memikirkan tindakannya sendiri. Misalnya kayak, seseorang biasanya dikenal dengan kepribadian dan tindakan tertentu. Katakanlah, dia kasar dan selalu mencemooh temannya. Suatu hari kamu jadi korban cemoohan dia. Kamu merasa jadi korban dan teman kamu malah bilang, "udah biarin aja, dia emang kayak gitu." Loh??? Kok jadi kita yang menormalisasi sikap negatif dia sih? Kita yang dirugikan, tapi kita yang harus toleransi? Gak fair lah. Ternyata, dengan bodo a...
Comments
Post a Comment