Surat untuk Ayah
Ini adalah tulisan lamaku. Aku publikasi ulang tanpa diberi perubahan. Pukul 22:18. Minggu, 06 Desember 2015. Sampai pada hari meninggalnya Ayah, aku tidak pernah bisa mengerti dirimu. Yang aku tahu hanya meminta uang jajan dari Ayah. Aku tidak pernah membuat bangga Ayah selama Ayah masih hidup. Aku tidak melakukan banyak hal yang menyenangkan bersama Ayah selama Ayah masih hidup. Aku hanya bisa merengek, membuat Ayah marah, membuat Ayah lelah, sampai pada hari meninggalnya Ayah, aku tidak pernah bisa membuat Ayah tersenyum. Aku hanya membebani Ayah. Ayah, Ayah tidak seharusnya pergi begitu saja... Pada hari itu, sebelum Ayah meninggal, saat Fajar aku masih tidur. Namun dengan setengah tersadar, aku bisa mendengar suara Ayah yang sedang berbincang dengan Uwa. Tidak ada firasat buruk atau apapun. Aku hanya kembali tertidur. Ayah yang akan pergi bekerja, seharusnya aku bangun dan keluar saat itu. Setidaknya Ayah bisa berbincang denganku untuk terakhir kalinya. Siapa sangka ses...