Let's Start With...

Ok, ini cuma random thoughts, sih. 

Pernah gak kalian mengingat-ngingat bagaimana kalian dulu?
Pernah gak berpikir, betapa besarnya perubahan yang ada di diri kalian sekarang ini?
Kalian bangga gak sama diri kalian yang sekarang?
Bangga dong pasti. Sama, aku juga bangga. 
Tapi kalian pernah merasa malu gak sama diri kalian yang dulu? Aku sih malu.

Kenapa malu?

Aku ngerasa aku yang dulu itu bego, bego, dan bego.
Tapi, dibandingkan yang dulu, sekarang aku merasa lebih paham, merasa lebih rasional, merasa lebih dewasa, merasa jadi orang yang lebih baik lah pokoknya.

Terkadang teman lamaku heran kenapa aku jadi lebih banyak diam daripada bicara saat berkumpul.
Bukan. 
Aku bukannya jadi pendiam. 
Aku hanya lebih banyak berpikir.
Dari diamku pula aku jadi lebih mengerti tentang kenapa orang-orang melakukan apa yang mereka lakukan; dan mengatakan apa yang mereka katakan.
Aku jadi lebih banyak berpikir ketika orang lain fokus menikmati momen yang ada.
Kamu tahu kan situasi saat orang-orang berbincang dan tertawa sedangkan kamu sibuk sendiri dengan suara-suara di kepalamu?
That's when I found the old me was happier and more peaceful than the present me.
And sometimes I wish I could back to the time when I have to choose.
I'd choose a simple life.
I'd choose to be dumb.
Aku pun jadi cenderung berpikir kalau menjadi orang yang apatis bisa membuatku merasa lebih damai, lebih baik aku apatis selamanya. 
Tapi mau bagaimana lagi, nurani yang menggerakkan.
Aku tidak bisa menutup mata dan telinga dari keadaan.
Everything sucks. 
Karena itu aku mencoba berubah dan terus menyesuaikan diri.
Tapi...
Mencoba terbuka dengan hampir segalanya itu tidak mudah.
Belum lagi nantinya harus berbeda pemikiran dengan orang-orang tersayang.
Apalagi orang sepertiku yang sering overthink dan rentan kena stress.

Oh Tuhan, dunia ini indah sebetulnya.
Mentalku aja mental tempe.
Payah.
Seringkali aku pengen berhenti.
Tapi sadar, mati bukan pilihan.

Kenapa sih aku harus terlahir ke dunia ini?

Aku mencoba untuk tidak menyalahkan pertemuan sel telur Ibu dan sperma Ayah pada malam itu.
Aku yakin semua ini pasti ada makna lebih.
Dan di perjalanan mencari makna lebih tersebut aku bertemu seseorang. 
Panggil saja "Torro".
Si Torro cerita, sebelum manusia terlahir ke dunia ini, rohnya ditanya, atau tepatnya ditawarkan pilihan. Terlahir sebagai malaikat atau terlahir sebagai manusia. Jika para roh tersebut memilih untuk menjadi manusia, mereka bisa lebih baik dari malaikat atau lebih buruk dari setan. Kurang lebih begitulah ceritanya. 

Aku mengaku, bahwa aku tidak se-religius itu. Tapi aku mengakui pula bahwa hal yang diceritakan si Torro sangatlah menyentuh. Bagian diriku yang haus akan jawaban dari keberadaanku di kehidupan ini memilih untuk mempercayainya. Bukan tentang bagaimana hal tersebut tertulis atau tidak tapi aku hanya ingin percaya dan mempunyai sesuatu untuk dipegang. Karena, dengan menyaksikan diriku yang berakhir di sini sebagai manusia, aku jadi berpikir bahwa menyerah pastilah bukan sebuah pilihan dan bukan apa yang 'aku' inginkan.

Pada akhirnya, aku harus bertanggung jawab dengan apa yang aku pilih, bukan? Well, here I am; trying to hold on.

Comments

Popular posts from this blog

My Blog's Name

"Biarin Aja, Dia Emang Kayak Gitu"