Surat untuk Ayah

Ini adalah tulisan lamaku. Aku publikasi ulang tanpa diberi perubahan. 


Pukul 22:18. 
Minggu, 06 Desember 2015.

Sampai pada hari meninggalnya Ayah, aku tidak pernah bisa mengerti dirimu. Yang aku tahu hanya meminta uang jajan dari Ayah. Aku tidak pernah membuat bangga Ayah selama Ayah masih hidup. Aku tidak melakukan banyak hal yang menyenangkan bersama Ayah selama Ayah masih hidup. Aku hanya bisa merengek, membuat Ayah marah, membuat Ayah lelah, sampai pada hari meninggalnya Ayah, aku tidak pernah bisa membuat Ayah tersenyum. Aku hanya membebani Ayah. Ayah, Ayah tidak seharusnya pergi begitu saja...

Pada hari itu, sebelum Ayah meninggal, saat Fajar aku masih tidur. Namun dengan setengah tersadar, aku bisa mendengar suara Ayah yang sedang berbincang dengan Uwa. Tidak ada firasat buruk atau apapun. Aku hanya kembali tertidur.

Ayah yang akan pergi bekerja, seharusnya aku bangun dan keluar saat itu. Setidaknya Ayah bisa berbincang denganku untuk terakhir kalinya. Siapa sangka sesuatu akan terjadi menimpa dirimu seperti itu. Ayah, harusnya kamu tahu, aku sangat sakit sekali ketika mendengar kakak menerima telpon dari polisi yang mengatakan bahwa Ayah meninggal dalam kecelakaan. Ayah, kamu mungkin berpikir tidak pernah memberiku yang terbaik, aku juga mungkin pernah berpikir Ayah tidak pernah menyayangiku. Tapi tetap saja seharusnya Ayah tidak pergi seperti itu. Serangan jantung katanya? Ayah sakit, tapi aku tidak pernah tahu. Siapa yang kejam disini? Apakah Ayah, yang tidak dekat denganku? Ataukah aku, yang menjauhi Ayah? Apakah Ayah, yang tidak pernah memberitahu aku? Ataukah aku, yang tidak pernah bertanya keadaan Ayah?

Waktu Ayah meninggal, saat itu aku sedang Ujian Kenaikan Kelas. Ayah seharusnya tahu, ketika pembagian rapot, aku masuk 10 besar! Itu pertama kalinya aku masuk ranking, tapi Ayah sudah tidak ada. Tetap saja, Ayah pasti masih tidak bangga padaku, kan? Aku sangat senang, tapi aku akan lebih senang ketika Ayah bisa melihat rapotku saat itu.

Ayah pergi dan tidak pernah kembali lagi. Sampai pada hari ke-40 meninggalnya Ayah, malamnya aku bermimpi. Semua orang bermimpi tentunya. Tapi dalam mimpiku saat itu, Ayah datang, sambil menangis. Ayah datang padaku dan meminta maaf. Ayah tidak berhenti menangis. Ayah meminta maaf. Berulang kali meminta maaf. Disana aku hanya kebingungan, "kenapa Ayah menangis dan meminta maaf?" Itu hanya mimpi, tapi rasanya nyata sekali. Sampai akhirnya aku terbangun dan sadar penuh, aku tak peduli Ayah nyata datang atau itu hanya mimpi saja, tapi aku merasakannya. Apakah Ayah menyesal karena pergi begitu saja? Apa yang Ayah sesalkan sebenarnya?

Kau tahu Ayah, jika Ayah hidup kembali, aku bisa melakukan yang lebih baik. Dan tentunya akan membuatmu bangga. Akan kulakukan yang terbaik. Membuat keadaan yang lebih mudah untuk kita. Tidak akan ada hal yang sulit lagi, semuanya akan mudah bagi semua orang. Karena Ayah, aku pasti akan melakukan yang terbaik. 

Comments

Popular posts from this blog

My Blog's Name

"Biarin Aja, Dia Emang Kayak Gitu"