Dari Mana Datangnya Insecurity Itu?
Ketika memikirkan diriku saat di bangku SD, yang ada dalam ingatanku adalah sosok lemah dan pendiam. Aku sadar aku tumbuh sebagai anak kecil yang tidak percaya diri. Sumbernya adalah kecelakaan yang kualami saat TK.
Ceritanya aku sedang bermain dengan adikku. Dia bersama mobil-mobilannya yang diikat tali rapia. Di luar ada kakak perempuan keduaku yang sedang menjemur pakaian. Mamah sedang dagang dan bapak narik angkot. Kakak perempuanku yang pertama sedang di rumah nenek. Kurang lebih begitulah ingatanku saat itu dan saat-saat begitu biasanya disebut: calm little moments before the storm.
Saat itu di dapur kompor menyala sedang dipakai untuk menanak nasi. Dulu masih kompor minyak. Entah bagaimana, yang kuingat adikku ingin memotong tali rapia di mobil-mobilannya. Aku pun menolongnya dengan menggunakan colokan minyak tanah dengan api menyala yang biasa dipakai untuk menyalakan kompor yang entah aku harus menyebutnya apa. Tali rapia pun berhasil terpotong. Colokannya masih berapi dan entah apa yang kupikirkan, aku masukkan colokan itu kembali ke dalam lubang kompor yang di dalamnya berisi minyak tanah dan BOOM. Kompor meledak sekaligus. Apinya mengenai diriku langsung dan kepalaku langsung dilalap api. Kakakku yang di luar panik kemudian membawaku ke kamar mandi dan langsung menyiramku dengan air. Pada akhirnya kecelakaan itu menyisakan bekas luka bakar di jidat dan leherku. Aku hanya bisa menertawakan betapa bodohnya diriku saat itu.
Aku juga masih ingat, betapa jeleknya aku saat itu. Rambutku terus rontok dan bau terbakar, kepalaku sebesar baskom dan aku tidak bisa melihat dengan normal karena mataku tertutupi oleh kepalaku yang besar. Kepalaku botak dan lukanya terlihat jelas di keningku. Tapi semuanya bisa teratasi.
Ketika masuk SD aku memakai kerudung agar lukaku tertutup. Tak lama aku melepas dan menghalangi lukaku dengan poni. Sebetulnya bukan aku yang ingin menutupi tapi itu adalah ide orang-orang yang merasa bertanggung jawab atas diriku. Hal ini agak mengusikku. Bagaimana kalo sejak kecil lukaku tidak ditutupi? Apakah aku akan jadi bahan bully-an atau justru tumbuh sebagai sosok kuat dan percaya diri? Entahlah. Yang jelas aku tidak mengalami bullying terkait luka bakarku. Tapi tetap saja, semua tidak begitu mulus saat itu. Diriku yang masih kecil harus membawa beban berat sendirian bernama: insecurity. Dia merasa dia kurang dan dia pun menjaga tingkah. She didn't have the chance to develop herself into the maximum level that time and I feel bad for her. I wish I could reach her and hug her telling her that she's not alone.
Comments
Post a Comment